Berjalanlah di kota Bukittinggi, berjalan bukan bermobil, bersepeda motor atau selain b-e-r-j-a-l-a-n. Anda akan menemukan pemandangan indah, unik, menarik bahkan menakutkan. Saya akan bercerita tentang yang terakhir. Beberapa bulan belakangan sejak ongkos angkutan kota menjadi dua ribu rupiah, saya membiasakan diri berjalan ke Pasar Bawah dari tempat tinggal saya di Jalan Melati. Awalnya perasaan enak yang timbul, ingat masa-masa sekitar 30 tahun (!) yang lalu, ketika setiap pagi melewati jalan yang populer dengan nama “Tengah Sawah”. Tentulah berjalan ini membuat ingatan, memori saya kembali ke wajah-wajah dan tingkah laku teman-teman di SMA 1. Seperti biasa, yang menyenangkan yang banyak teringat, juga yang lucu.
Saya susuri terus dengan senang, namun sekira dipertengahan jalan antara Stasiun Bukittinggi 9stasiun kereta api) dan Mesjid Agung di kawasan Tangah Sawah. saya terbelalak menyaksikan sebuah pampers sudah terpakai lengkap dengan isinya (!). Di dekat itu sebuah bak sampah kayu yang isinya sudah meluap, bermacam-macam; baik yang bisa membusuk terurai secara alami maupun yang berpuluh tahunpun masih akan bertahan, plastik salah satunya.
Perasaan ngeri mendatangi saya. Kotoran manusia yang biasanya diantar ke kakus, paling tidak kekamar mandi, sekarang terpapar ke warga kota yang lalu lalang. Harga popok sekali pakai yang agak murah telah membuat warga kota memudahkan diri namun menyengsarakan orang lain. Memakai pampers mudah, membelinya juga tak terlalu sulit, mempertanggungjawabkannya setelah dipakai baru masalah. Saya ngeri membayangkan berapa banyak pampers berisi kotoran di produksi setiap hari, berapa pampers yang dibawa dengan peti kemas, diantar truk-truk ke toko-toko. Kemana pampers itu pergi setelah digunakan, berikut isinya.
Ada yang mau menjawab ? Sementara pemerintah kota yang punya tanggungjawab terhadap pengelolaan akhir sampah, entahlah, mungkin akan membuat proposal dulu atau mencari investor kalau-kalau penanganan pampers ini bisa meningkatkan PAD.
Saya lanjutkan perjalanan menuju Pasar Bawah dengan perasaan sama sekali tak nyaman. Sampah, alangkah menakutkan
0 Tanggapan ke “sampah, ancaman penduduk kota”